“Tapi ini tidak seperti peta biasa. Garis-garis ini… mungkin ini jalur.” Lynx mengamati lebih dekat. “Lihat di utara ini,” katanya sambil menunjuk garis yang membentuk tepi. “garis ini sangat mirip seperti tebing di lokasi dekat gua tempat tinggal kita sebelumnya. Jika ini benar, maka jalur ini menunjukkan rute lain dari yang kita lalui untuk sampai ke sini.”

Leena memiringkan kepalanya. “Jadi Chiko dan Sherly bisa ke utara bertemu kita karena mereka menggunakan jalur ini?”

Lynx mengangguk. “Sepertinya begitu. Mungkin itulah alasan mereka bisa selamat sampai bertemu kita tanpa banyak rintangan."

Dia melanjutkan mengamati peta, matanya bergerak ke arah timur. “Dan ini…” katanya sambil menunjuk simbol bintang. “Sepertinya sesuatu yang penting ada di timur. Tapi untuk mencapainya, kita harus melakukan perjalanan jauh, tetapi nantinya kita akan melewati lagi gua utara tempat kita tinggal sebelumnya. Dari sana, jalur ini akan membawa kita ke tengah pulau, lalu dari sana ke timur.”

Leena menarik napas panjang. “Itu perjalanan yang panjang, kenapa harus ke tengah pulau tidak langsung lewat timur laut? bukankah lebih dekat ke timur lewat pinggir pulau” katanya, suaranya bergetar dengan kelelahan. “Tapi kalau ini jalur yang lebih aman, mungkin kita bisa sampai di sana tanpa menghadapi terlalu banyak bahaya.”

Leena bergumam sendiri memandang peta yang tergambar di dinding. Lalu dia bertanya ke Lynx, "Apa rencana selanjutnya?"

"Kita akan bermalam disini untuk sementara sambil mempelajari lagi gambar-gambar ini, setelah siap semuanya, kita akan berangkat ke timur untuk mencari petunjuk, siapa tahu justru malah jalan pulang kita ada disana." Jawab Lynx.

Di bawah peta itu, ada ukiran tambahan yang menarik perhatian Leena. Gambar itu menunjukkan seseorang yang berjalan di sepanjang jalur, membawa sesuatu seperti tongkat bercahaya. Di sebelah gambar itu, terdapat serangkaian simbol yang tampaknya seperti peringatan.

“Apa maksudnya ini?” tanya Leena.

Mereka saling menebak dan berbagi pemikiran mengenai arti dari simbol-simbol yang ada, namun mereka belum dapat memastikan arti dibalik simbol-simbol tersebut.

Lynx mengamati ukiran itu sekali lagi, memastikan mereka memahami jalur yang digambarkan. “Kita tidak bisa langsung ke timur dari sini,” katanya. “Jalan itu tampaknya hanya bisa dilalui dari gua utara tempat kita tinggal. Kita harus kembali ke sana dulu.”

“Benar” kata Leena. “Jika kita bisa mencapai tempat di timur itu, mungkin kita akan menemukan jawaban atas semua ini—tentang makhluk-makhluk itu, pulau ini, dan kenapa kita dibawa ke sini.”

"Lynx, suasana di tempat ini sangat menakutkan. Bisakah kita tidak bermalam disini?" Lanjut Leena bertanya.

Lynx yang memahami ketakutan Leena berkata, "baiklah kita akan kembali setelah mempelajari ini sebentar lagi."

Mereka menghabiskan beberapa saat terakhir di ruangan itu untuk memastikan mereka tidak melewatkan petunjuk apa pun. Leena menyalin peta di dinding untuk membantu mereka menemukan tempat yang dituju. Setelah itu, mereka mempersiapkan diri untuk kembali ke lorong tempat mereka masuk, membawa rasa khawatir tetapi juga harapan baru.

"Lynx, apakah kamu yakin ada tempat di timur yang bisa memberikan jawaban untuk kita? aku merasa sangat aneh, kenapa peta ini tidak menggambarkan bentuk sebenarnya pulau ini."

Leena mengutarakan penasarannya saat keluar ruangan karena peta yang dilihatnya terasa tidak lengkap. Lynx mengangkat kedua tangan sambil menggelengkan kepala, "aku tidak paham juga mengenai hal ini, tapi hanya ini petunjuk yang kita punya, jadi kita tetap harus mencobanya."

“Ini mungkin berbahaya,” kata Leena saat mereka mulai melangkah kembali ke lorong. “Tapi aku percaya pada kita. Kita sudah sejauh ini.”

Lynx tersenyum kecil. “Kita akan melewati ini bersama.”

Saat melewati lorong tambang berada, Lynx menghentikan langkahnya. Dia mendapatkan ide untuk dapat bertahan hidup dengan lebih baik.

"Ada apa Lynx?" Tanya Leena.

"Aku ingin melihat tambang itu lagi, ayo kita kesana untuk melihatnya." Kata Lynx sambil melangkah menuju tambang.

Lynx menatap urat logam di dinding tambang yang mereka temukan. Cahaya obor memantulkan kilauan logam di antara retakan batu, menciptakan kilau suram yang memikat. Lynx tidak bisa menahan pikirannya yang terus bekerja.

“Kita punya peluang di sini,” katanya tiba-tiba.

Leena memandangnya bingung. “Apa maksudmu?”

“Bijih besi ini,” jawab Lynx sambil menunjuk batu yang berkilauan. “Kita bisa mengolahnya. Jika kita berhasil membuat senjata yang lebih kuat, perjalanan kita akan lebih aman.”

Leena memandang bijih itu skeptis. “Tapi kita tidak punya alat. Bagaimana mungkin kita bisa membuat senjata dari ini?”

Lynx berpikir sejenak, lalu menghela napas panjang. “Ini akan sulit. Tapi bukan tidak mungkin. Aku pernah melihat proses sederhana untuk membuat besi dari bijihnya. Kita hanya perlu memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita.”

"Jika ini berhasil, kita bisa punya senjata lebih kuat. Aku akan membantumu." kata Leena bersemangat.

Lynx mulai dengan memecahkan bongkahan batu yang mengandung bijih besi menggunakan batu besar sebagai palu dan batu pipih sebagai alas. Ia memukul dengan keras, memecahkan batu besar menjadi pecahan-pecahan kecil.

“Bagian yang berkilauan ini adalah bijih besinya,” katanya, menunjuk serpihan-serpihan kecil yang mengandung mineral. “Kita harus memisahkannya dari batu-batu lain.”

Leena membantu mengumpulkan pecahan yang lebih kecil, menyisihkan bagian yang tidak berguna. Mereka memasukkan bijih tersebut ke dalam tabung bawaan mereka.

“Ini cukup berat,” keluh Leena sambil memindahkan tabung.

Lynx tersenyum kecil. “Ini baru langkah pertama. Bagian tersulit masih menunggu.”

Mereka kembali ke ruangan tempat mereka bermalam sebelumnya, memilih tempat yang memiliki ventilasi alami agar asap tidak terperangkap. Lynx mulai menggali lubang di tanah menggunakan tongkat besar yang diasah, membentuk tungku sederhana berbentuk mangkuk.

Di sekeliling lubang, ia menumpuk batu-batu besar untuk membuat dinding tungku. “Batu ini akan menahan panas dan menjaga agar api tetap stabil,” jelasnya.

Leena mengumpulkan kayu kering dan ranting untuk bahan bakar. “Tapi bagaimana kita membuat api yang cukup panas untuk melelehkan bijih besi?” tanyanya.

Lynx mengangguk. “Itu bagian tersulit. Kita membutuhkan arang. Kayu biasa tidak cukup panas.”

Mereka mengumpulkan kayu yang cukup tebal dari pohon mati di sekitar gua. Lynx membuat lubang kecil di tanah, menumpuk kayu-kayu itu di dalamnya, lalu menutupinya dengan lapisan tanah tipis, menyisakan beberapa lubang kecil untuk sirkulasi udara.

Ia menyalakan api di bawah kayu tersebut, membiarkannya membara perlahan. “Dengan menutupi kayu ini, kita mengurangi oksigen, sehingga kayu akan terbakar menjadi arang, bukan abu,” jelasnya.

Leena mengamati dengan kagum. “Kau seperti sudah pernah melakukan ini sebelumnya.”

“Bukan. Aku hanya pernah melihat orang melakukannya. Tapi ini akan memakan waktu lama. Kita tunggu sampai arang siap.”

Setelah beberapa jam, mereka menggali kembali kayu yang sudah menjadi arang. Arang itu jauh lebih ringan dan berwarna hitam pekat, siap digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku mereka.

Lynx memasukkan pecahan bijih besi ke dalam tungku bersama dengan arang. Ia menyalakan api menggunakan percikan dari batu api, membiarkan arang membara hingga mencapai suhu yang sangat tinggi.

“Kita butuh lebih banyak udara untuk membuat api lebih panas,” katanya.

Leena mengambil daun besar dan mulai mengipasi api. Lynx menambahkan beberapa bambu berlubang sebagai pipa sederhana untuk meniupkan udara ke tungku.

"Lynx, apakah ada cara lain untuk memompa udara, tidak terlalu efektif menggunakan daun ini." keluh Leena.

Lynx berpikir sejenak, dia teringat pernah membuat pompa untuk sepedanya saat dirumah. Lynx mulai mencari potongan bambu yang mereka temukan di dekat gua saat berburu. Lynx memotong sebatang bambu yang panjang dan lurus . Setelah memotong bambu tersebut, ia mengambil beberapa potongan bambu lebih kecil untuk membuat piston pendorong. Dia tahu bahwa untuk meningkatkan api, ia perlu menciptakan sistem yang dapat mengarahkan udara langsung ke api tersebut. Sebuah pompa sederhana bisa membantu.

Dengan hati-hati, Lynx membuat lubang kecil di bagian bawah bambu panjang, memastikan bahwa batang bambu yang lebih kecil bisa masuk dengan pas. Piston bambu yang ia buat itu tidak boleh terlalu ketat, agar udara bisa mengalir keluar dengan cukup banyak setiap kali ia mendorongnya.

Sekarang, bagian yang lebih sulit, membuat katup. Lynx tahu bahwa tanpa katup yang baik, udara hanya akan keluar dengan sia-sia. Dia menggunakan kulit hewan untuk membuat katup yang bisa membuka dan menutup secara otomatis dengan gerakan udara. Dengan hati-hati, Lynx mengupas kulit hewan yang mereka miliki, memotongnya menjadi potongan kecil. Kulit ini cukup fleksibel untuk membentuk katup yang dapat mengatur aliran udara.

Setelah kulit hewan dipasang di ujung bambu dengan tali akar yang ia temukan, Lynx melanjutkan untuk merakit bagian terakhir, sistem penghubung. Dia mengikatkan beberapa akar kuat pada ujung bambu agar pompa bisa dipegang dengan nyaman saat digunakan, serta memastikan bahwa bagian-bagian bambu yang rapuh tidak terlepas saat ditekan, serta dengan batang bambu kecil membuat pipa untuk mengarahkan udara keluar.

Saat semuanya selesai, Lynx merasa sedikit lebih tenang. Dia memasang pompa itu di dekat arang . Dengan sekali dorong, udara yang terperangkap di dalam bambu keluar melalui katup kulit hewan yang terbuat dengan cermat. Api itu kembali menyala, semakin membesar seiring semakin banyaknya oksigen yang disalurkan ke dalamnya. Lynx membuat enam pompa untuk di beberapa titik tungku.

Lynx ingin membuat sistem katrol agar tidak melelahkan memompa dan bisa menghasilkan panas yang cukup untuk mencairkan biji besi. Lynx membuat tiang penyangga dari batang pohon disekitarnya, lalu Lynx mengikat erat semua piston ke sebuah batang kayu yang diberikan beban batu agar posisi bambu piston selalu menekan ke bawah pompa, dan menggunakan tali diarahkan ke batang di atasnya agar mereka bisa menarik tali tersebut untuk menarik keatas pompa, dan melepaskan tali untuk mendorong udara keluar ke arah api.

Setelah memakan waktu yang cukup lama, bijih besi mulai meleleh perlahan, membentuk cairan hitam pekat yang mengalir ke dasar tungku. Cairan itu bercampur dengan kotoran dari batu, membentuk lapisan yang disebut “terak.”

“Terak ini harus kita buang,” kata Lynx. Ia menggunakan ranting panjang untuk mengeluarkan terak dari permukaan, meninggalkan besi kasar di dasar tungku.

Setelah cairan besi mendingin dan mengeras menjadi balok kecil, Lynx mengeluarkannya dari tungku. Besi itu masih kasar, tetapi cukup keras untuk dibentuk menjadi senjata.

“Kita butuh landasan,” kata Lynx, mencari batu besar yang datar. Ia meletakkan besi di atas batu tersebut dan mulai memukulnya dengan batu lain untuk membentuknya.

“Ini belum seperti pedang atau tombak yang sempurna,” katanya, “tapi cukup untuk membuat ujung yang tajam.”

Dengan hati-hati, ia membentuk besi menjadi bilah kecil yang bisa diikatkan ke tongkat kayu.

Leena membantu menghaluskan bilah besi menggunakan pasir kasar dan daun yang basah. Setelah bilah cukup tajam, mereka mengikatnya ke tongkat kayu menggunakan serat tumbuhan yang kuat.

Lynx memegang hasil kerjanya dengan bangga. “Ini tidak sempurna, tapi cukup kuat untuk menusuk atau memotong.”

Leena memegang salah satu tombak yang telah mereka buat. “Aku tidak percaya kita bisa melakukan ini hanya dengan alat seadanya.”

Lynx tersenyum. “Di tempat seperti ini, kita harus menggunakan apa yang kita miliki. Dengan senjata ini, kita punya peluang lebih baik untuk bertahan.”

Dengan senjata baru mereka, Lynx dan Leena merasa lebih percaya diri untuk menghadapi perjalanan kembali ke gua utara. Mereka tahu bahaya masih menunggu, tetapi kini mereka memiliki perlindungan tambahan.

“Kini kita punya peta, senjata, dan tekad,” kata Lynx saat mereka mulai berjalan kembali. “Apapun yang menunggu kita di depan, kita akan menghadapinya bersama.”

Leena mengangguk, menggenggam tombaknya erat-erat. “Kita akan bertahan, apapun yang terjadi.”

Hari-hari berlalu dengan cepat di tengah hiruk-pikuk kegiatan Lynx dan Leena. Mereka kembali ke tambang untuk mengumpulkan lebih banyak bijih besi dan meningkatkan keahlian mereka dalam membuat senjata. Proses yang melelahkan itu memakan waktu, tetapi mereka berhasil menciptakan berbagai macam senjata sederhana: parang untuk memotong, pisau besar untuk bertarung jarak dekat, pisau kecil untuk keperluan sehari-hari, serta mata panah yang diikat pada tongkat bambu untuk berburu dari kejauhan.

Dengan senjata baru mereka, Lynx dan Leena mulai menguji keefektifannya. Mereka memutuskan untuk berburu di sekitar gua, melatih keterampilan mereka sambil memperkuat persediaan makanan.

Saat Leena melihat seekor babi hutan kecil di kejauhan, ia mengangkat busur sederhana yang mereka buat. Dengan hati-hati ia membidik, menarik napas dalam-dalam, dan melepaskan panah. Panah itu melesat dan mengenai kaki hewan tersebut.

“Hampir kena sasaran,” kata Lynx, memuji usaha Leena sambil berlari untuk menyelesaikan perburuan dengan parang barunya.

Perburuan mereka menghasilkan daging yang cukup untuk beberapa hari, kulit untuk pakaian tambahan, dan tulang untuk bahan pelengkap senjata atau alat lainnya. “Senjata ini membuat segalanya jauh lebih mudah,” kata Leena sambil menggosok tombaknya dengan rasa puas.

“Benar,” jawab Lynx. “Tapi senjata ini bukan hanya untuk berburu. Bahaya yang lebih besar mungkin sedang menunggu kita di dalam gua ini.”

"Lynx," tiba-tiba Leena mendekati Lynx dengan malu.

"Ada apa Leena? kenapa kamu bertingkah aneh seperti ini?" Tanya Lynx yang heran dengan sikap Leena.

"Bisakah kamu membuat alat untuk memasak agar kita bisa bikin masakan yang lain selain dibakar?" Leena bertanya dengan malu karena dia tahu proses pembuatannya sangat susah.

"Kamu benar Leena, kita bisa membuat panci untuk merebus makanan, juga membuat wajan agar bisa menggoreng makanan ini." Lynx menjawab sambil menelan ludah. Dia membayangkan nikmatnya memakan makanan yang ada nantinya.

Mereka kembali ke tambang mengumpulkan bijih besi dan membuat tungku. Saat matahari naik ke puncak, Lynx dan Leena sudah mengumpulkan cukup banyak bijih besi.

"Kita harus membuat tungku yang lebih besar dari sebelumnya," kata Lynx sambil mengukur dengan langkah kakinya. "Untuk membuat panci dan wajan, kita butuh lebih banyak besi cair."

Lynx lalu mulai menggali membuat tungku. Tangannya dengan cekatan membentuk dinding tungku dari bebatuan. Lynx memposisikan agar saat biji besi sudah mencair dapat dengan mudah mengalirkannya ke cetakan. Mereka harus berhati-hati karena panasnya biji besi, jangan sampai melukai mereka.

"Lynx, bagaimana cara membentuk pancinya nanti?" tanya Leena sambil terus bekerja.

"Kita akan membuat cetakan dari tanah liat," jawab Lynx. "Bentuk mangkuk besar dari tanah liat, lalu keringkan dan letakkan di posisi yang sudah disiapkan. Saat besi cairnya siap, kita akan mengalirkannya ke cetakan itu."

Mereka bekerja sepanjang hari. Leena membuat dua cetakan - satu berbentuk mangkuk dalam untuk panci, satu lebih dangkal untuk wajan. Lynx mengumpulkan kayu keras dan membuatnya menjadi arang.

Malam tiba saat tungku selesai. "Ini akan jadi malam yang panjang," kata Lynx sambil menyalakan api.

Leena mengangguk, "Aku akan membantumu memompa udara."

Mereka bergantian sepanjang malam. Saat satu memompa udara, yang lain menambah arang dan bijih besi. Api putih kebiruan menari-nari, membuat bayangan mereka bergerak di dinding gua.

Menjelang fajar, besi cair mulai mengumpul di dasar tungku. Dengan hati-hati, menggunakan tongkat kayu panjang yang ujungnya dilapisi tanah liat, mereka mengalirkan besi cair dan menuangkannya ke dalam cetakan.

"Pelan-pelan," bisik Leena, tangannya gemetar memegang tongkat bersama Lynx.

Besi cair mengalir seperti air merah menyala, mengisi cetakan dengan desisan lembut. Mereka menunggu beberapa jam sampai besi mendingin.

"Sekarang bagian tersulit," kata Lynx sambil memecahkan cetakan tanah liat.

Di dalamnya, meski masih kasar, terbentuk panci dan wajan pertama mereka. Permukaan tidak rata dan tepinya tidak sempurna, tapi bagi mereka, itu adalah harta tak ternilai.

"Kita masih harus menghaluskannya dengan batu," kata Lynx.

Leena tersenyum lebar, matanya berbinar, "Tidak masalah! Yang penting kita bisa membuat sup ikan nanti!"

Lynx tertawa melihat antusiasme Leena. Meski lelah setelah bekerja semalaman, membayangkan makanan yang bisa mereka masak dengan peralatan baru ini membuat semua jerih payah terasa setimpal.

"Ayo kita mulai menghaluskannya," ajak Lynx, mengambil batu yang halus. "Semakin cepat selesai, semakin cepat kita bisa memasak."

Mereka membagi tugas, Lynx berburu hewan dan Leena melanjutkan menghaluskan. Saat Lynx kembali membawa hasil tangkapan, rusa.

"Lynx, bagaimana kamu bisa mendapatkan rusa secepat ini?" Tanya Leena.

Lynx menceritakan bagaimana dia menemukan rusa ini terkena jebakan yang dipasang Lynx sebelumnya untuk membantu mengamankan mereka dari serangan hewan buas ataupun makhluk aneh.

Lynx kemudian memotong daging rusa tersebut, lalu memilah antara daging dengan lemak. Dengan api kecil dan wajan baru mereka, Lynx dan Leena melelehkan lemak untuk mengambil minyaknya.

Malam itu mereka berpesta pora memakan beraneka makanan yang di rebus dan di goreng.